21 November 2025

Fakta Atau Mitos Ya Dot/Empeng Dapat Mempercepat Kerusakan Gigi Pada Anak

Halo sahabat Kingdom’s, Dot atau empeng memang bisa merusak gigi anak, terutama jika digunakan secara tidak tepat atau terlalu lama. Ini bukan mitos, melainkan fakta yang sering diamati dalam praktik kedokteran gigi anak lho sahabat Kingdom’s. Kira-kira apa ya sahabat Kingdom’s akibat nya pada anak selain membuat karies pada anak semakin menumpuk, yuk simak artikel berikut ya sahabat Kingdom’s.
 
Gigi dapat berubah bentuk akibat penggunaan dot (atau alat penghisap lainnya). Perlu diketahui bahwa dalam jangka menengah dan panjang, penggunaan dot dapat menghambat pertumbuhan gigi susu dan bahkan gigi permanen. Sesungguhnya waktu terbaik untuk menghentikan penggunaan dot dan botol susu adalah pada usia 9 bulan.
 
 

1. Karies Gigi (Gigi Berlubang)

Ini adalah masalah gigi yang paling sering muncul akibat penggunaan dot yang tidak tepat.
  • Paparan Gula Berulang : Bahaya terbesar muncul ketika dot dicelupkan ke dalam cairan manis seperti madu, gula, sirup, jus, atau bahkan susu formula atau ASI yang tersisa di mulut terlalu lama. Setiap kali anak mengisap dot yang manis ini, gigi mereka langsung terpapar gula. Bakteri alami di mulut kemudian akan memakan gula ini dan menghasilkan asam. Asam inilah yang menjadi musuh utama enamel (lapisan terluar gigi) karena ia mengikis dan melarutkan mineral dari email, menyebabkan terbentuknya lubang (karies).
  • Risiko Saat Tidur : Saat anak tidur, produksi air liur sangat berkurang. Air liur berfungsi sebagai "pembersih alami" mulut, membantu membilas sisa makanan dan menetralkan asam. Jika anak tertidur dengan dot yang mengandung sisa cairan manis atau botol susu di mulut, gula akan menempel pada gigi untuk waktu yang sangat lama tanpa perlindungan air liur yang cukup. Ini menciptakan lingkungan yang ideal bagi bakteri untuk bekerja dan merusak gigi, terutama gigi depan atas yang paling sering terpapar. Kondisi ini dikenal sebagai karies botol susu (baby bottle tooth decay).
 

2. Gangguan Perkembangan Gigi dan Rahang (Maloklusi)

Selain lubang, penggunaan dot yang berkepanjangan (terutama setelah usia balita) dapat memengaruhi bagaimana struktur mulut dan gigi anak tumbuh dan berkembang. Tulang rahang dan gigi anak masih sangat lunak dan mudah dibentuk, sehingga tekanan konstan dari dot dapat mengubah arah pertumbuhan mereka.
  • Perubahan Bentuk Rahang dan Langit-langit Mulut : Tekanan isapan yang intens dan terus-menerus pada dot bisa mengubah bentuk rahang atas dan langit-langit mulut. Langit-langit mulut bisa menjadi lebih sempit dan tinggi dari seharusnya.
  • Gigi Tonggos (Protrusi Gigi Depan) : Tekanan dari dot secara konsisten mendorong gigi depan atas ke arah luar atau depan. Ini membuat gigi tampak lebih menonjol.
  • Gigitan Terbuka (Open Bite) : Ini terjadi ketika gigi depan atas dan bawah tidak bertemu atau tidak menyentuh sama sekali saat mulut anak tertutup. Ada celah di antara gigi atas dan bawah. Kondisi ini bisa memengaruhi cara anak makan, mengunyah, bahkan berbicara (misalnya, menyebabkan cadel).
  • Gigitan Silang (Crossbite) : Pada beberapa kasus, penggunaan dot yang berkepanjangan dapat menyebabkan gigi atas menggigit di bagian dalam gigi bawah.
  • Gigi Tidak Rapi : Perubahan bentuk rahang dan posisi gigi akibat dot bisa menyebabkan gigi permanen (gigi dewasa) yang akan tumbuh menjadi tidak pada posisi yang tepat, sehingga gigi terlihat berjejal atau tidak rata. Kondisi ini sering kali memerlukan perawatan ortodontik (kawat gigi) di kemudian hari.
 

3. Cara Mengurangi Risiko Kerusakan Gigi Akibat Dot

Untuk meminimalkan risiko ini, orang tua bisa melakukan beberapa hal :
 
  • Jangan Pernah Mencelupkan Dot ke Cairan Manis: Ini adalah aturan paling penting. Dot harus selalu dalam keadaan bersih, tanpa tambahan rasa manis.
  • Batasi Penggunaan Dot: Kurangi ketergantungan anak pada dot seiring bertambahnya usia. Kebanyakan dokter gigi anak merekomendasikan untuk mulai menyapih anak dari dot sekitar usia 1 tahun, dan idealnya dihentikan total sebelum usia 2-4 tahun untuk mencegah masalah perkembangan gigi dan rahang permanen.
  • Jaga Kebersihan Mulut Anak: Walaupun masih bayi, mulailah membersihkan gusi bayi dengan kain bersih. Setelah gigi pertama tumbuh, sikat gigi anak secara teratur menggunakan sikat gigi khusus bayi dan pasta gigi berfluoride seukuran sebutir beras.
  • Hindari Tidur dengan Botol/Dot Berisi Cairan Manis: Jika anak perlu botol saat tidur, pastikan hanya berisi air putih.

Artikel Lainnya

Gigi Putih Saat Lebaran: Paket Bleaching dan Scaling Promo Ramadhan di Jakarta

Menjelang Idul Fitri, persiapan penampilan menjadi prioritas bagi banyak orang. Selain pakaian baru, senyum yang cemerlang adalah kunci rasa percaya diri saat bersilaturahmi. Namun, pertanyaannya: “Bagaimana cara mendapatkan gigi putih instan yang aman selama bulan puasa?”

Tooths Kingdom Dental Care hadir dengan solusi cerdas melalui Paket Promo Ramadhan: Bleaching + Scaling, khusus untuk Sahabat TKDC yang berdomisili di Jakarta.

Read More
Scaling Gigi Saat Puasa, Apakah Aman Atau Batal? Ini Penjelasan Medis & Hukum Islam

Halo Sahabat TKDC! Puasa Ramadhan sering membuat banyak orang menunda perawatan gigi karena khawatir akan membatalkan puasa. Salah satu tindakan yang paling sering dipertanyakan adalah scaling gigi saat puasa. Banyak yang bertanya, “Scaling gigi aman nggak sih saat puasa?” atau “Apa scaling gigi bisa membatalkan puasa?”

Read More

Please rotate your phone to access the website